Pages - Menu

Pages

Selasa, 15 Oktober 2013

KEGIATAN SEMINAR KERANGAMAN BUDAYA

Persoalan putusnya mata rantai generasi penurus budaya di Sumba menjadi suatu persoalan yang sangat hangat dibicarakan dikalangan tokoh-tokoh yang peduli akan budaya Sumba. Di tengah maraknya  perdebatan tentang persoalan budaya  di Sumba,  Stube HEMAT Sumba mengambil bagian dalam mengkampayekan akan pentingnya mempelajari budaya yang ada.
Dalam kegiatan ini ada berbagai hal yang kami dapatkan dari kegiatan ini, dimana selama ini kami sebagai anak muda generasi penerus bangsa terlebih khusus Sumba tidak pernah mengetahuinya hal-hal tersebut. Dalam kegiatan ini kami dibuka wawasannya untuk dapat mengetahui persoalan budaya  yang ada di daerah selama ini, sehingga kami pun dapat tahu akan kehidupan social yang terjadi di daerah kami.

Rabu, 02 Oktober 2013

THR untuk siapa???


Seperti biasa pada tahun sebelumnya, dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, Pemerintah Daerah (Pemda) Sumba Timur (Sumtim) menggelar kegiatan Pameran Pembangunan dan Taman Hiburan Rakyat, atau yang sering disebut THR itu . Seperti tujuannya, sebagai media untuk mempublikasikan program Pemda Sumba Timur, setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) ramai-ramai membuat Standnya masing-masing.

THR yang digelar di Sweamback itu, beragam Stand yang berdiri baik dari SKPD Pemda Sumba Timur, juga ada Stand lempar gelang dan lempar bulu ayam, selain itu ditengah-tengah taman sweambcak terdapat banyak sekali penjual makanan-makanan ringan yang turut ambil bagian dalam pameran tersebut.  tak heran jika waktu pembukaannya tanggal 05 agustus 2013, ratusan atau bahkan ribuan orang pengunjung datang menyaksikan pameran itu.

Bagian dari kebutuhan orang diantaranya adalah hiburan. Kebutuhan akan hiburan memang tidak pernah memandang status seseorang, anak-anak, dewasa, laki-laki, perempuan, kaya atau miskin. Sedangkan hiburan publik di Sumba Timur khususnya Kota Waingapu hampir tidak ada, kecuali THR yang digelar ketika peringatan HUT Kemerdekaan Negara ini.


Sabtu, 28 September 2013

RENUNGAN REFLEKSI KEMERDEKAAN INDONESIA


Merdeka...!!! 
 Sebuah perjalanan yang cukup panjang setelah 68 tahun yang lalu bangsa ini bebas dari penjajahan bangsa asing dan menyatakan kemerdekaanya pada dunia internasional. Namun apa yang dimaksud dengan kemerdekaan itu sendiri, apakah kemerdekaan itu sudah benar-benar terwujud bagi bangsa Indonesia. Pada tangga 17 agustus 1964 dalam pidatonya bung karno mengatakan Revolusi kita bukan sekedar mengusir pemerintahan Belanda dari Indonesia. Revolusi kita menujuh lebih jauh lagi dari pada itu. Revolusi Indonesia menujuh tiga kerangka yang sudah terkenal. Revolusi Indonesia menujuh kepada sosialisme! Revolusi Indonesia menujuh kepeda dunia Baru tanpa exploitation de I’homme par I’homme ‘dan ‘explitation de nation par nation’. Kalimat ini selalu di kumandangkan oleh Soekarno agar dapat membakar semangat bangsa Indonesia sehingga benar-benar keluar dari yang namanya eksploitasi, penindasan, penghisapan manusia oleh manusia yang lain. Kemerdekaan bangsa Indonesia sekarang ini belum sampai pada tahapan apa yang dimaksudkan oleh Soekarno dalam pidatonya diatas. Soekarno tahu jelas bahwa penjajahan sebenarnya itu tidak hanya dilakukan oleh bangsa asing saja, namun juga bisa datang dari bangsa itu sendiri. Hal ini Soekarno selalu mengatakan dalam pidatonya yang berbunyi ; “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”. Kata-kata Soekarno ini sangat terasa sampai sekarang ini, dimana yang kuat menindas yang lemah, yang kaya mindas yang miskin. Si miskin semakin miskin dan si kaya semakin kaya memperkaya diri dengan memperdaya si miskin.

Senin, 18 Maret 2013

Tanah Merah

Hamparan padang sabana yang menghiasimu
dikala siang itu bukit-bukit seakan menari
menyambut sinar matahari 
yang menembuskan cahayanya,
mengingatkanku setahun yang lalu
tak terduga aku menghampirimu, 
melihat sekeliling yang berkecoklatan
 karna kemarau panjang. . .

Jumat, 08 Februari 2013

PENDIDIKAN DI SUMBA TIMUR NYARIS TERDENGAR DIGEDUNG DPRD, ORANG TUA MURID BELI PENDIDIKAN

Memasuki Awal bulan memperingati kemerdekaan Indonesia, tepatnya tanggal 02 Agustus 2011, waktu yang ditentukan Pejabat Daerah ketika tidak ada kegiatan yang menyibukkan bagi mereka. Yang seharusnya kegiatan Dialog dan dengar pendapat tentang pendidikan Sumba Timur seyogyanya dilakuakan  pada tanggal 22 juli 2011 lalu, ketika sekolah-sekolah menerima pendaftaran murid baru. Pertemuan ini di selenggarakan oleh sebuah LSM Stimulant Institute Sumba) yang khususnya bergerak dalam bidang Advokasi Kebijakan dan Pelayanan Publik bersama Pusat Sumber Daya

Dialog CRC bersama DPRD dan Pemerintah kabupaten Sumba Timur

Waingapu, 02 agustus 2011

Dalam rangka penerimaan siswa baru (PSB) yang telah dilaksanakan sebulan yang lalu di kabupaten sumba timur, Pusat sumber daya warga (CRC) yang telah terbentuk di kecamatan kota dan kecamatan kambera kabupaten Sumba Timur telah memprakarsai dialog antara DPRD, Pemerintah Kabupaten Sumba Timur dan bersama kepala sekolah mulai dari tingkat SD sampai ke tingkat SMA. DPRD juga mengapresiasi Pusat Sumber Daya Warga (CRC) dan Stimulant Institute sumba yang telah memprakarsai kegiatan dialog ini.
Dialog yang dipimpin langsung oleh ketua DPRD kabupaten Sumba Timur Bapak drh. Palulu Pabundu Ndima, Msi. bertujuan untuk mendengarkan keluh kesah yang dirasakan oleh masyarakat miskin yang mengalami kendala dalam mengakses dan menyekolahkan anaknya di sekolah yang berkualitas, kendatipun pemerintah kabupaten Sumba Timur telah menganggarkan biaya yang tinggi di sector pendidikan Untuk meningkatkan SDM kabupaten Sumba Timur, pemerintah juga menaruh perhatian yang sangat serius untuk sector pendidikan, hal ini diwujudnyatakan dengan mengalokasikan anggaran sebesar 36 % dari APBN Kabupaten Sumba Timur dan bahkan adanya program sekolah gratis bagi wajib belajar, tetapi jauh dari harapan bahwa masih banyak orang tua yang merasakan mahalnya masuk sekolah bagi anak-anaknya, dan belum menyentuh apa yang menjadi kebutuhan dari warga miskin dan kaum marginal lainnya. Buktinya bahwa di Kabupaten Sumba Timur masih banyak warga yang mengalami masalah dan belum bisa membiayai anaknya untuk bersekolah. Disamping itu, semangat orang tua tidak pernah surut untuk menyekolahkan anaknya karena merupakan tanggung jawabnya sebagai orang tua.

Selasa, 29 Januari 2013

BAHAYA TAMBANG TERHADAP AIR TANAH

 
 
Air tanah dan mata air terjadi akibat adanya kejenuhan tanah pada kedalaman tertentu oleh air hujan. Air hujan yang jatuh akan menbasahi tanah dan setelah permukaan tanah kenyang air lalu air hujan mengalir menurut ketinggian. Pada bagian tanah tertentu yang daya tampung airnya tinggi akan berkumpul sampai sangat kenyang (super jenuh) lalu tebentuk aliran "laminar" air melalui lapisan tanah dan si ujung lapisan tesebut apabila ada hambatan, kan keluar sebagai mata air.
Namun keluarnya mata air ini bergantung kepada daya tangkap air hujan, kemampuan penyerapan air dan gangguan permukaan seperti tambang.
1. Daya tangkap air hujan
Taruhlah sebuah gelas dan sebuah ember di luar saat hujan turun. Manakah yg menampung air lebih banyak? Tentu ember. Mengapa karena luas dan kapasitasnya lebih besar dari gelas. Demikian pula dayabtangkap air oleh pulau. Katakan saja pulau kalimantan adalah ember dan pulau sumba adalah gelas. Jelas di sini bahwa daya tangkap air hujan pulau Sumba sangat rendah dan itulah sebabnya pulau sumba selalu kekurangan air. Belum lagi curah hujan yang rendah di kawasan NTT.

SURAT TERBUKA BUAT BUPATI SUMBA TIMUR, SUMBA TENGAH DAN GUBERNUR NTT

 
JANGAN KORBANKAN RAKYAT SUMBA
Kami adalah RAKYAT, perwakilan Komunitas Bengkel Tolak Tambang (BTT), Barisan Rakyat Anti Tambang Minerba di Sumba (BRANTAS), Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Sumba, KONTRAS, KIARA Komunitas Peduli Martabat Tanah Sumba (KPMTS), Wahana Lingkungan Hidup (WALHI), Solidaritas Petani Manupeu Tanadaru & Wanggameti, Warga Desa Wahang, JPIC OFM, Sinode GKS, Gerakan PNS Progresif Baik (GPPB), Forum Peduli Masyarakat Sumba Timur (FORPEMAST).

KOMISI C DPRD SUMBA TIMUR AKAN MEMBAWA KASUS PT. FR KE TINGKAT PARIPURNA


Waingapu: Komisi C DPRD Sumba Timur secara terang-terangan menolak aktifitas pertambangan PT. Fathi Resources (PT.FR) dan mendukung upaya warga Desa Wahang dan Para Aktivis Lingkungan/Penolak Pertambangan yang berjuang menolak kehadiran PT.FR di Desa Wahang. Statemen ini dilontarkan secara terbuka oleh Ali Oemar Fadaq, Ketua Komisi C DPRD Sumba Timur dalam rapat dengar pendapat di ruang sidang Komisi C, Senin (28/01), menghadirkan Kapolres Sumba Timur  AKBP I Made Darmadi Giri,
Para Aktivis Lingkungan/Penolak Pertambangan dan beberapa orang warga yang mewakili 415 KK warga Desa Wahang Kecamatan Pinu Pahar sebelumnya telah menyatukan aspirasi menolak kehadiran PT.FR. Seorang perwakilan PT. FR juga hadir meskipun terlambat hingga rapat hampir ditutup.
Selain Anggota Komisi C DPRD Sumba Timur, hadir pula Wakil Bupati dr. Matius Kitu Sp.B; Ketua DPRD drh. Palulu P. Ndima; Plt. Sekda Bargam Landu Meha, SH; Kadis Tamben Daniel Lalu, SH; dan Camat Pinu Pahar Andi Marumata.
“Kami Komisi C bukanlah lembaga yang berwenang untuk memutuskan hasil rapat ini, tetapi kami akan membawanya ke tingkat paripurna sidang DPRD”, tegas Aba Ali dalam rapat, sapaan akrab Ketua Komisi C DPRD ini.
Dipertanyakan oleh Arfian Deta dan David Manu, keduanya aktivis peduli lingkungan, tentang tindakan pihak Polres Sumba Timur yang dinilai sepihak dan tidak adil/tidak jelas dalam proses hukum peristiwa penganiayaan  menyebabkan Stevanus, warga Desa Wahang, hingga babak belur oleh oknum Kepala Sekolah SDN Wahang, Wempi Djawa Lenang (diduga sebagai antek PT.FR), juga dugaan kriminalisasi/penahanan paksa 16 orang petani sampai dijadikan tersangka oleh Polres sehubungan dengan peristiwa penganiayaan Stevanus di akhir November 2012 lalu.
Kapolres Sumba Timur, AKBP I Made Darmadi Giri menanggapi, pihaknya sedang melakukan proses penyelidikan dan penyidikan lebih lanjut kasus dugaan penganiayaan yang terjadi di Desa Wahang. “Terkait kasus tindak pidana saya selaku Kapolres disini, tinggal tunggu saja hasilnya nanti. Semua laporan yang masuk baik di Polres maupun di Polsek Tabundung akan kami tindak lanjuti. Kami juga dapat mengambil sikap dengan menerapkan Restorasi Justice untuk kebaikan bersama masyarakat di sana”, ujar Darmadi Giri.
(Restorasi Justice: Mekanisme tata cara peradilan pidana yang berfokus pada pemidanaan diubah menjadi proses dialog dan mediasi untuk menciptakan kesepakatan atas penyelesaian perkara pidana yang adil dan seimbang bagi pihak korban dan pelaku: red.).
“Saya meminta masyarakat turut membantu untuk terciptanya situasi yang aman dan kondusif baik di Desa Wahang maupun daerah lain yang terdapat konflik akibat adanya usaha pertambangan”, tambah Kapolres Darmadi Giri.
Dalam surat terbuka yang dibagikan salah seorang aktivis kepada wartawan, mengatasnamakan beberapa Komunitas/LSM/Aktivis Peduli Lingkungan/Penolak Kehadiran Pertambangan Minerba di Sumba Timur. Isi surat salah satunya, meminta kepada Bupati Sumba Timur, Sumba Tengah dan Gubernur NTT agar mencabut rekomendasi atau IUP PT. FR yang saat ini sedang beroperasi dan tidak lagi mengeluarkan rekomendasi/ijin baru yang mendukung dibukanya usaha pertambangan di Pulau Sumba, kehadiran PT. FR dianggap telah menimbulkan konflik yang luas dalam kehidupan masyarakat khususnya di desa Wahang dan masyarakat di sekitar Taman Nasional Wanggameti serta kerusakan lingkungan hidup, PT.FR harus “angkat kaki” dari bumi Marapu.
Moh. Zein Bunga, Anggota Komisi C DPRD Sumba Timur juga keras berpendapat, ia menyatakan menolak kehadiran PT. FR dan mendukung aksi penolakan pertambangan sebagaimana yang disuarakan warga Sumba Timur dan para aktivis.
Pemerintah Sumba Timur, diwakili oleh Wakil Bupati dr. matius Kitu,Sp.B memberikan sinyal positif atas tuntutan masyarakat dan aktivis lingkungan.Wakil Bupati yang dikenal polos dan apa adanya ini berpendapat, tanah dimana masyarakat tinggal dan melakukan aktivitas hidupnya adalah diperuntukkan bagi masyarakat itu sendiri, itu poin penting, pemerintah tugasnya adalah mengatur, ujarnya.
Tentang konflik yang terjadi di tengah masyarakat Desa Wahang, Matius Kitu berharap dapat diselesaikan secara damai kekeluargaan oleh warga terutama para tokoh masyarakat dan tetua adatnya.
“Pemerintah Sumba Timur sudah menerbitkan surat penghentian sementara aktifitas PT. Fathi di Desa Wahang. Yang masyarakat tunggu adalah penghentiannya secara permanen, kita di sini untuk mendiskusikan hal ini, namun saya bukanlah pengambil keputusan tetapi pak Bupati yang berhak. Apa lagi massa sudah masuk ke sini dan menolak keras aktifitas PT. Fathi di Desa Wahang. Saya pribadi boleh bilang saya juga ikut menolak, tetapi itu bukanlah keputusan pemerintah, masih ada Pak Bupati dan Gubernur yang memiliki wewenang”, ungkap Wakil Bupati.
Usai rapat, para aktivis melakukan aksi theatrikal di aula gedung DPRD Sumba Timur, mendesak Pemkab Sumba Timur (Bupati) untuk segera menghentikan aktifitas PT. FR secara permanen, ini tampak dari adegan yang disuguhkan.

Rabu, 23 Januari 2013

23 Januari 2013



Kehidupan merupakan peristiwa yang harus kita jalani walaupun tidak semua orang merasakan kehidupan yang sama, dari proses kelahiran, logikanya adalah merupakan pengembangbiakan baik manusia, hewan dan tubuhan yang ada di bumi ini tapi kita akan tetap menerima kehidupan dan berjalan menyusurinya walau penuh dengan tantangan dan bahkan kita tidak tahu kapan tantangan itu kita dapatkan. Yakin usaha dan sampai adalah tujuan dari hidup.. jika kita tidak mempunyai  sebuah tujuan hidup maka hidup tidak akan terarah dan mengambang di kehidupan dunia ini...

kehidupan adalah sebuah perjalanan dengan takdir yang telah ditetapkan untuk kelangsungan hidup seorang manusia. Kehidupan yang harus dijalani dengan satu tujuan dalam hidupnya, mencapai kebahagiaan hidup. Perjalanan panjang yang dilalui dengan segala problema kehidupan yang ada. Dari sejak dilahirkan, tumbuh menjadi anak-anak, melalui masa-masa pubertas (mencari jati diri), beranjak dewasa hingga menjadi seseorang yang dewasa dengan melalui berbagai pengalaman yang terjadi dalam hidupnya hingga mengerti bagaimana arti dari sebuah kehidupan itu sendiri.


Minggu, 20 Januari 2013

DANA BOS

Latar Belakang
 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa setiap warga negara yang berusia 7-15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar. Pasal 34 ayat 2 menyebutkan bahwa Pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya, sedangkan dalam ayat 3 menyebutkan bahwa wajib belajar merupakan tanggung jawab negara yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. Konsekuensi dari amanat undang-undang tersebut adalah Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik pada tingkat pendidikan dasar (SD dan SMP) serta satuan pendidikan lain yang sederajat.
Salah satu indikator penuntasan program Wajib Belajar 9 Tahun dapat diukur dengan Angka Partisipasi Kasar (APK) SD dan SMP.  Pada tahun 2005  APK SD telah mencapai 115%, sedangkan SMP pada tahun 2009 telah mencapai 98,11%, sehingga program wajar 9 tahun telah tuntas 7 tahun lebih awal dari target deklarasi Education For All (EFA) di Dakar. Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dimulai sejak bulan Juli 2005, telah berperan secara signifikan dalam percepatan pencapaian program wajar 9 tahun. Oleh karena itu, mulai tahun 2009 pemerintah telah melakukan perubahan tujuan, pendekatan dan orientasi program BOS, dari perluasan akses menuju peningkatan kualitas.
Pada tahun 2012 Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) mengalami perubahan mekanisme penyaluran dan. Pada tahun anggaran 2011  penyaluran dana BOS dilakukan melalui mekanisme transfer ke daerah kabupaten/kota dalam bentuk Dana Penyesuaian untuk Bantuan Operasional Sekolah, mulai tahun anggaran 2012 dana BOS disalurkan dengan mekanisme yang sama tetapi melalui pemerintah provinsi.

Warga Kritisi PLN: Katanya Ada Listrik Pintar, Listrik Bodoh Bagaimana?




   
Waingapu.Com - PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN) area Sumba, NTT, terus dikritisi warga terkait pelayanannya. Padahal di tahun 2012 ini aneka terobosan terus dilakukan oleh pihak PLN seperti menerapkan sistem meteran token/pulsa yang diisitilahkan oleh oknum PLN sendiri sebagai ‘listrik pintar’ hingga membangun Pembangkit Listrik dengan sumber enegeri air yang dikenal dengan Micro Hydro disejumlah wilayah Pulau Sumba.
Aneka kritikan warga Kota Waingapu dan sekitarnya itu lahir karena merasa pelayanan PLN untuk mencukupi kebutuhan listrik warga beberapa bulan terakhir jelang berakhirnya Tahun 2012 ini cenderung mengecewakan.
“Kalau lihat dari grafik yang ditunjukan sesuai hasil survey via para responden oleh Stimulant Institute dan Max FM memang ada kecendrungan kinerja PLN dikahir tahun 2012 ini menurun atau dengan kata lain ketidakpuasan konsumen meningkat,” jelas Anto Kila, salah seorang warga yang hadir dalam diskusi review pelayanan publik yang dilaksanakan Stimulant Institute di aula Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Wira Wacana Sumba, Jumat (21/12) beberapa hari lalu.
Matinya listrik secara mendadak yandikeluhkan warga dalam diskusi kian mengemuka ketika tiba-tiba listrik mati kala diskusi sedang berlangsung. Sontak mata para peserta diskusi seakan menghujam Alwi Azegaf, Asisten Manager Jaringan, PT. PLN area Sumba yang hadir dalam forum itu.

Jumat, 18 Januari 2013

SOE HOK GIE


Soe Hok Gie dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942, adik dari sosiolog Arief Budiman. Catatan harian Gie sejak 4 Maret 1957 sampai dengan 8 Desember 1969 dibukukan tahun 1983 oleh LP3ES ke dalam sebuah buku yang berjudul Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran setebal 494 halaman. Gie meninggal di Gunung Semeru sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 - 16 Desember 1969 akibat gas beracun.

Setelah lulus dari SMA Kanisius Gie melanjutkan kuliah ke Universitas Indonesia tahun 1961. Di masa kuliah inilah Gie menjadi aktivis kemahasiswaan. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno dan termasuk orang pertama yang mengritik tajam rejim Orde Baru.

Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya yang di era demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat pemerintah kemudian selepas mereka lulus berpihak ke sana dan lupa dengan visi dan misi perjuangan angkatan 66. Gie memang bersikap oposisif dan sulit untuk diajak kompromi dengan oposisinya.