Soe
Hok Gie dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942, adik dari sosiolog
Arief Budiman. Catatan harian Gie sejak 4 Maret 1957 sampai dengan 8
Desember 1969 dibukukan tahun 1983 oleh LP3ES ke dalam sebuah buku yang
berjudul Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran setebal 494 halaman.
Gie meninggal di Gunung Semeru sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 -
16 Desember 1969 akibat gas beracun.
Setelah
lulus dari SMA Kanisius Gie melanjutkan kuliah ke Universitas Indonesia
tahun 1961. Di masa kuliah inilah Gie menjadi aktivis kemahasiswaan.
Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya
Soekarno dan termasuk orang pertama yang mengritik tajam rejim Orde
Baru.
Gie
sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya yang di era
demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat pemerintah
kemudian selepas mereka lulus berpihak ke sana dan lupa dengan visi dan
misi perjuangan angkatan 66. Gie memang bersikap oposisif dan sulit
untuk diajak kompromi dengan oposisinya.
Selain
itu juga Gie ikut mendirikan Mapala UI. Salah satu kegiatan pentingnya
adalah naik gunung. Pada saat memimpin pendakian gunung Slamet 3.442m,
ia mengutip Walt Whitman dalam catatan hariannya, "Now I see the secret
of the making of the best person. It is to grow in the open air and to
eat and sleep with the earth".
Pemikiran
dan sepak terjangnya tercatat dalam catatan hariannya.
Pikiran-pikirannya tentang kemanusiaan, tentang hidup, cinta dan juga
kematian. Tahun 1968 Gie sempat berkunjung ke Amerika dan Australia, dan
piringan hitam favoritnya Joan Baez disita di bandara Sydney karena
dianggap anti-war dan komunis. Tahun 1969 Gie lulus dan meneruskan
menjadi dosen di almamaternya.
Bersama
Mapala UI Gie berencana menaklukkan Gunung Semeru yang tingginya
3.676m. Sewaktu Mapala mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa
naik gunung dan Gie berkata kepada teman-temannya:
"Kami
jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah
manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak
mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat
mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai
tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama
rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus
berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik
gunung."
8 Desember sebelum Gie berangkat sempat menuliskan catatannya:
"Saya
tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar
kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya
perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol
pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara
yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian
Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat." Selanjutnya catatan selama
ke Gunung Semeru lenyap bersamaan dengan meninggalnya Gie di puncak
gunung tersebut.
24
Desember 1969 Gie dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo, namun dua hari
kemudian dipindahkan ke Pekuburan Kober, Tanah Abang. Tahun 1975 Ali
Sadikin membongkar Pekuburan Kober sehingga harus dipindahkan lagi,
namun keluarganya menolak dan teman-temannya sempat ingat bahwa jika dia
meninggal sebaiknya mayatnya dibakar dan abunya disebarkan di gunung.
Dengan pertimbangan tersebut akhirnya tulang belulang Gie dikremasi dan
abunya disebar di puncak Gunung Pangrango.
Beberapa quote yang diambil dari catatan hariannya Gie:
"Seorang
filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan,
yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua.
Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda."
"Kehidupan
sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua
yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin
merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti
pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil …
orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur."
"Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan…"
Selain
Catatan Seorang Demonstran, buku lain yang ditulis Soe Hok Gie adalah
Zaman Peralihan, Di Bawah Lentera Merah dan Orang-Orang di Persimpangan
Kiri Jalan serta riset ilmiah DR. John Maxwell Soe Hok Gie: Pergulatan
Intelektual Muda Melawan Tirani.
John
Maxwell berkomentar, "Gie hanya seorang mahasiswa dengan latar belakang
yang tidak terlalu hebat. Tapi dia punya kemauan melibatkan diri dalam
pergerakan. Dia selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan bangsanya.
Walaupun meninggal dalam usia muda, dia meninggalkan banyak tulisan. Di
antaranya berupa catatan harian dan artikel yang dipublikasikan di
koran-koran nasional" ujarnya. "Saya diwawancarai Mira Lesmana (produser
Gie) dan Riri Reza (sutradara). Dia datang setelah membaca buku saya.
Saya berharap film itu akan sukses. Sebab, jika itu terjadi, orang akan
lebih mengenal Soe Hok Gie" tuturnya.
Berikut adalah beberapa buku-buku dari pemikiran Soe Hok Gie dan lainnya ...
Di Bawah Lentera Merah - Riwayat Sarekat Islam Semarang 1917-1920
Penulis : Soe Hok Gie
Kategori : Buku Bagus
Di
Bawah Lentera Merah menarasikan satu periode krusial dalam sejarah
Indonesia yaitu ketika benih-benih gagasan kebangsaan mulai disemaikan,
antara lain lewat upaya berorganisasi. Melalui sumber data berupa
kliping-kliping koran antara tahun 1917-1920-an dan wawancara autentik
yang berhasil dilakukan terhadap tokoh-tokoh sejarah yang masih tersisa,
penulisnya mencoba melacak bagaimana bentuk pergerakan Indonesia, apa
gagasan substansialnya, serta upaya macam apa yang dilakukan oleh para
tokoh Sarekat Islam Semarang pada kurun waktu 1917-an.
Di
bawah pimpinan Semaoen, para pendukung Sarekat Islam berasal dari
kalangan kaum buruh dan rakyat kecil. Pergantian pengurus itu adalah
wujud pertama dari perubahan gerakan Sarekat Islam Semarang dari gerakan
kaum menangah menjadi gerakan kaum buruh dan tani. Saat itu menjadi
sangat penting artinya bagi sejarah modern Indonesia karena menjadi
tonggak kelahiran gerakan kaum Marxis pertama di Indonesia.
Pertimbangan
lain mengapa Di Bawah Lentera Merah menjadi penting adalah karena buku
ini memotret bagaimana gagasan transformasi modernisasi berproses dari
wacana tradisional ke wacana modern. Lebih khusus lagi Soe Hok Gie,
melalui buku ini, mengajak kita mencermati bagaimana para tokoh
tradisionalis lokal tahun 1917-an mencoba menyikapi perubahan pada abad
ke-20 yang dalam satu dan lain hal, punya andil menjadikan wajah bangsa
Indoensia seperti sekarang ini.
Catatan Seorang Demonstran
Penulis: Soe Hok Gie
Ada
sebuah catatan kecil dari pemikiran Soe Hok Gie tentang konsep
kebudayaan yang ada di buku ini ketika ia sedang berdiskusi dengan Ong
Hok Ham yang dicatatnya pada tanggal 31 Desember 1962. Di sana dia
menulis: “Lihat di Irian Barat, telanjang, bercawat, tidak ada
kebudayaan.” (hal.109)
Usia
buku Catatan Seorang Demonstran memang sudah lebih dari 20 tahun. Sejak
Mei 1983 sampai Agustus 1993, buku itu rutin diterbitkan sampai cetakan
keenam.
Setelah
hampir 12 tahun lebih, buku itu dicetak lagi bersamaan dengan
peluncuran film Gie produksi Miles Film. Sejak awal, menurut Maruto,
cetak ulang itu memang dirancang untuk saling mendukung guna
memopulerkan lagi kehidupan Soe Hok Gie. Masuknya sponsor resmi A Mild
dalam sampul buku dan pada setiap bentuk promosi film makin memperjelas
ikatan promosi itu.
Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani
Penulis: John Maxwell
Ia
bukan partisan, dalma arti mengabdikan kegiatan intelektualnya bagi
suatu kepentingan politik sempit. Tetapi ia juga bukan jenis intelektual
yang mengelakkkan keterlibatan dalam kancah politik.Seperti diakuinya,
politik ibarat lumpur kotor, namun dalam keadaan mendesak, ia siap
mencemplungkan diri ke dalamnya. Terjun dalam pergolakan politik tanah
air pada tahun-tahun "60-an, Soe Hok-gie ikut mengambil bagian dalam
gerakan perlawanan terhadap keotoriteran Sukarno. Ia menulis dalam surat
kabar maupun selebaran gelap, dan pada tahun "66 aktif menggerakkan
demonstrasi mahasiswa di jalan-jalan.
Sebagai
seorang cendekiawan, "kejujurannya tidak mengenal batas," tulis
Soedjatmoko dalam "Peranan Intelektuil di Negara Sedang
Berkembang"(Budaja Djaja, Juli 1970).Kelahiran Orde Baru yang secara
tidak langsung ikut dibidaninya tidak membuatnya menutup mata terhadap
gejala keotoriteran baru yang muncul tidak lama kemudian. Itulah potret
Soe Hok-gie, seorang intelektual muda yang konsisten melawan tirani
sampai akhir hayatnya, dilukiskan dengan rinci oleh John Maxwell dalam
buku ini, yang merupakan terjemahan disertasi doktoralnya Soe Hok-gie : A
Biography of a Young Indonesian Intellectual.
John
Maxwell lahir pada tahun 1946 di Melbourne, Australia. Meraih gelar MA
dari Monash University, Department of Politics di Melbourne (1982), ia
kemudian mengambil PhD. dari Auastralian National University, Department
of Political and Social Change di Canberra (1997). Pernah mengajar pada
Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran di Bandung, 1972-1974, sejak
1998 sampai sekarang ia bekerja di Jakarta pada SMERU Research
Institute, sebuah lembaga penelitian tentang pelaksanaan kebijakan
sosial-ekonomi pemerintah.
Orang-Orang Di Persimpangan Kiri Jalan
Soe Hok Gie
"Engkau
tahu siapa saya? Saya Musso. Engkau baru kemarin jadi prajurit dan
berani meminta supaya saya menyerah pada engkau. Lebih baik meninggal
daripada menyerah, walaupun bagaimana saya tetap merah putih." Karena
prajurit ini memang tidak bermaksud menembak mati Musso, ia lari ke desa
di dekatnya. Sementara itu pasukan-pasukan bantuan di bawah Kapt.
Sumadi telah datang. Musso bersembunyi di sebuah kamar mandi dan tetap
menolak menyerah. Akhirnya ia ditembak mati. Mayatnya dibawa ke
Ponorogo, dipertontonkan dan kemudian dibakar.
Karya
temtang pemberontakan PKI di Madiun ini dianyam demikian rupa
seakan-akan kita membaca sebuah novel sejarah dramatis yang menegangkan.
Tapi penulisnya cukup hati-hati untuk tetap bersikap objektif dalam
analisisnya hingga fakta sebagai "suatu yang suci" dalam bangunan
sejarah tetap ditempatkan dalam posisi yang terhormat.
Cuma
segitu? Hmm ... sebenarnya masih ada tulisan atau buku lainnya. Blog
ini ini tidak ingin terjebak menjadi sebuah katalog toko buku. Nah,
sebagai pelipur lara, ... masih ada sedikit tulisan tentang sosok GIE
ini ... Silahkan disimak! [disalin dari majalah Intisari edisi Desember
1999]
KENANGAN KEPADA SEORANG DEMONSTRAN - SOE HOK GIE
Enam
belas Desember 30-an tahun lalu, Soe Hok Gie, tokoh mahasiswa dan
pemuda, meninggal dunia di puncak G. Semeru, bersama Idhan Dhanvantari
Lubis. Sosok dan sikapnya sebagai pemikir, penulis, juga aktivis yang
berani, coba ditampilkan Rudy Badil, yang mewakili rekan lainnya,
Aristides (Tides) Katoppo, Wiwiek A. Wiyana, A. Rachman (Maman), Herman
O. Lantang dan almarhum Freddy Lasut.
"Siap-siap
kalau mau ikut naik lagi ke Gunung Semeru. Kasih kabar secepatnya,
sebab harus ada persiapan di musim penghujan Desember, juga pertengahan
Desember itu bulan puasa Ramadhan," kata Herman O. Lantang, mantan
pimpinan pendakian Musibah Semeru 1969, yang masih amat bugar di umurnya
yang sudah lewat 57 tahun.
Terkejut
dan tersentuh juga saya saat mendengar ajakan Herman itu. Dia
merencanakan membentuk tim kecil untuk mendaki puncak Semeru lagi
Desember ini, sambil memperingati 30 tahun meninggalnya dua sobat lama
kami, Soe Hok Gie dan Idhan Lubis. "Kita juga akan berdoa, sekalian
mengenang Freddy Lasut yang meninggal beberapa bulan lalu," lanjutnya.
Soe
meninggal dunia saat baru berumur 27 tahun kurang sehari. Idhan malah
baru 20 tahun. "Tanpa terasa Soe sudah tiga dasawarsa meninggalkan kita
sejak Orde Baru ... perkembangan yang terjadi di Tanah Air dalam dua
tahun terakhir ini, khususnya gerakan mahasiswa yang telah menggulingkan
pemerintahan Orde Baru, mengingatkan kita kembali pada situasi tahun
1960-an, ketika Soe masih menjadi aktivis mahasiswa kala itu," begitu
bunyi naskah buku kecil acara "Mengenang Seorang Demonstran", (berisikan
antara lain diskusi panel soal bangsa dan negara Indonesia ini), yang
bakal diselenggarakan Iluni FSUI dan Alumni Mapala UI.
Kasih Batu dan Cemara
Dari
beberapa catatan kecil serta dokumentasi yang ada, termasuk buku harian
Soe yang sudah diterbitkan, Catatan Seorang Demonstran (CSD) (LP3ES,
1983), di benak saya mulai tergali suasana sore hari bergerimis hujan
dan kabut tebal, tanggal 16 Desember 1969 di G. Semeru.
Seusai
berdoa dan menyaksikan letupan Kawah Jonggringseloko di Puncak Mahameru
(puncaknya G. Semeru) serta semburan uap hitam yang mengembus membentuk
tiang awan, bersama Maman saya terseok-seok gontai menuruni dataran
terbuka penuh pasir bebatuan. Kami menutup hidung, mencegah bau belerang
yang makin menusuk hidung dan paru-paru.
Di
depan kelihatan Soe sedang termenung dengan gaya khasnya, duduk dengan
lutut kaki terlipat ke dada dan tangan menopang dagu, di tubir kecil
sungai kering. Tides dan Wiwiek turun duluan. Sempat pula kami
berpapasan dengan Herman dan Idhan. Kelihatannya kedua teman itu akan
menjadi yang paling akhir mendaki ke Mahameru.
Dengan
tertawa kecil, Soe menitipkan batu dan daun cemara. Katanya, "Simpan
dan berikan kepada kepada "kawan-kawan" batu berasal dari tanah
tertinggi di Jawa. Juga hadiahkan daun cemara dari puncak gunung
tertinggi di Jawa ini pada cewek-cewek FSUI." Begitu kira-kira kata-kata
terakhirnya, sebelum bersama Maman saya turun ke perkemahan darurat
dekat batas hutan pinus atau situs recopodo (arca purbakala kecil
sekitar 400-an meter di bawah Puncak Mahameru).
Di
perkemahan darurat yang cuma beratapkan dua lembar ponco (jas hujan
tentara), bersama Tides, Wiwiek dan Maman, kami menunggu datangnya
Herman, Freddy, Soe, dan Idhan. Hari makin sore, hujan mulai tipis dan
lamat-lamat kelihatan beberapa puncak gunung lainnya. Namun secara
berkala, letupan di Jonggringseloko tetap terdengar jelas.
Menjelang
senja, tiba-tiba batu kecil berguguran. Freddy muncul sambil
memerosotkan tubuhnya yang jangkung. "Soe dan Idhan kecelakaan!"
katanya. Tak jelas apakah waktu itu Freddy bilang soal terkena uap
racun, atau patah tulang. Mulai panik, kami berjalan tertatih-tatih ke
arah puncak sambil meneriakkan nama Herman, Soe, dan Idhan berkali-kali.
Beberapa
saat kemudian, Herman datang sambil mengempaskan diri ke tenda darurat.
Dia melapor kepada Tides, kalau Soe dan Idhan sudah meninggal! Kami
semua bingung, tak tahu harus berbuat apa, kecuali berharap semoga
laporan Herman itu ngaco. Kami berharap semoga Soe dan Idhan cuma
pingsan, besok pagi siuman lagi untuk berkumpul dan tertawa-tawa lagi,
sambil mengisahkan pengalaman masing-masing.
Tides
sebagai anggota tertua, segera mengatur rencana penyelamatan. Menjelang
maghrib, Tides bersama Wiwiek segera turun gunung, menuju perkemahan
pusat di tepian (danau) Ranu Pane, setelah membekali diri dengan dua
bungkus mi kering, dua kerat coklat, sepotong kue kacang hijau, dan satu
wadah air minum. Tides meminta kami menjaga kesehatan Maman yang masih
shock, karena tergelincir dan jatuh berguling ke jurang kecil.
"Cek
lagi keadaan Soe dan Idhan yang sebenarnya," begitu ucap Tides sambil
pamit di sore hari yang mulai gelap. Selanjutnya, kami berempat tidur
sekenanya, sambil menahan rembesan udara berhawa dingin, serta tamparan
angin yang nyaris membekukan sendi tulang.
Baru
keesokan paginya, 17 Desember 1969, kami yakin kalau Soe dan Idhan
sungguh sudah tiada, di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Kami jumpai jasad
kedua kawan kami sudah kaku. Semalam suntuk mereka lelap berkasur pasir
dan batu kecil Gunung Semeru. Badannya yang dingin, sudah semalaman
rebah berselimut kabut malam dan halimun pagi. Mata Soe dan Idhan
terkatup kencang serapat katupan bibir birunya. Kami semua diam dan
sedih.
Mengapa Naik Gunung
Sejak
dari Jakarta Soe sudah merencanakan akan memperingati hari ultahnya
yang ke-27 di Puncak Mahameru. Malam sebelumnya, tanggal 15 Desember,
dalam tenda sempit di tepi hutan Cemoro Kandang, Soe yang amat menguasai
lirik dan falsafah lagu-lagu tertentu, meminta kami menyanyikan lagu
spiritual negro, Nobody Knows, sampai berulang-ulang. Padahal irama lagu
ini monoton sampai sudah membosankan kuping dan tenggorokan.
Idhan
yang pendiam, cuma duduk tertawa-tawa, sambil mengaduk-aduk rebusan mie
hangat campur telur dan kornet kalengan. Malam dingin dan hujan itu,
kami bertujuh banyak bercerita, termasuk mendengarkan rencana Soe yang
mau berultah di puncak gunung. "Pokoknya gue akan berulang tahun di
atas," katanya sambil mesam-mesem. "Nyanyi lagi dong. Lagu Donna
Donna-nya Joan Baez itu bagus sekali."
Pagi
hari nahas itu, sebelum berkemas untuk persiapan pendakian ke puncak,
kami sarapan berat. Soe yang biasanya cuma bercelana pendek, kini
memakai celana panjang dengan sepatu bot baru. Bahkan dia mengenakan
kemeja kaus warna kuning dengan simbol UI di kantung. "Keren enggak?"
Tanyanya.
Rombongan
pun berjalan mendaki, menuju Puncak Mahameru dari dataran di kaki
Gunung Bajangan. Soe sebagaimana biasanya, selalu memanggul ransel besar
dan berat, berjalan gesit sambil banyak cerita dan komentar. Ia
mengisahkan bahwa di sekitar daerah itu pasti masih banyak harimau
karena dia menemukan jejak kakinya. Dia juga menyebut kalau Cemoro
Kandang berlumpur arang gara-gara kebakaran hutan pinus tahunan, sebagai
pertanda seleksi alam dan proses regenerasi tanaman hutan.
Dosen
sejarah ini terus nyerocos kepada mahasiswanya (saya), asal muasal nama
recopodo alias arca kembar, serta mitologi Puncak Mahameru yang
berkaitan dengan nasib Pandawa Lima dalam pewayangan Jawa. Namun sang
mahasiswa juga membayangkan dengan geli, betapa kagetnya wakil DPR-RI
saat itu ketika menerima bingkisan dari kelompok Soe berisi gincu dan
cermin sebagai perlambang fungsi anggota DPR yang banci. Sayang, cuma
segitu ingatan saya tentang Soe pada jam-jam terakhirnya.
Yang
masih tetap terngiang justru rayuan dan "falsafahnya", kala mengajak
seseorang mendaki gunung. "Ngapain lama-lama tinggal di Jakarta.
Mendingan naik gunung. Di gunung kita akan menguji diri dengan hidup
sulit, jauh dari fasilitas enak-enak. Biasanya akan ketahuan, seseorang
itu egois atau tidak. Juga dengan olahraga mendaki gunung, kita akan
dekat dengan rakyat di pedalaman. Jadi selain fisik sehat, pertumbuhan
jiwa juga sehat. Makanya yuk kita naik gunung. Ayo ke Semeru,
sekali-kali menjadi orang tertinggi di Pulau Jawa. Masa cuma Soeharto
saja orang tertinggi di Pulau Jawa ini," kira-kira begitu katanya,
sambil menyinggung nama mantan Presiden Soeharto, nun sekitar 30 tahun
lalu.
Memang
pendakian ke Semeru ini merupakan proyek kebanggaan Mapala FSUI 1969.
Soe dengan keandalannya melobi kiri-kanan, mampu mengumpulkan dana untuk
subsidi penuh beberapa rekan yang mahasiswa bokek sejati.
Singkat
cerita, musibah sudah terjadi. Soe mungkin tidak membayangkan betapa
kematiannya bersama Idhan Lubis bikin repot setengah mati banyak orang.
Kami yang ditinggal dalam suasana tak menentu, selama sembilan hari
benar-benar hidup tidak kejuntrungan. Selain puasa sampai tiga hari
karena kehabisan makanan, kami makin sedih saat menerima surat dari
Tides via kurir, menanyakan keadaan Soe dan Idhan.
Herman,
kami sudah sampai di Gubuk Klakah hari Kamis pagi, sesudah jalan
sepanjang malam (sekitar 20 jam). Pak Lurah menyanggupi tenaga bantuan
10 orang dan bekal. Mohon kabar bagaimana Soe, Idhan, dan Maman dll.
secepatnya mendahului rombongan ... Tides dan Wiwik 18-12-69.
Saya
pun terpilih menjadi kurir, mendahului rombongan sambil membawa surat
untuk Tides. Isinya apalagi kalau bukan minta bantuan tenaga dan bahan
makanan. Herman pun menulis surat: Saya tunggu di Cemorokandang dan
bermaksud menunjukkan "site" tempat jenazah Soe dan Idhan ... kirimkan:
gula/gula jawa, nasi, lauk, permen, pakaian hangat ... sebanyak mungkin!
Akhirnya,
semua bantuan tiba. Seluruh anggota rombongan baru berkumpul lagi pada
tanggal 22 Desember di Malang. Kurus dan kelelahan. Maman terpaksa
dirawat khusus beberapa hari di RS Claket. Sedangkan Soe dan Idhan,
terbaring kesepian di dalam peti jenazah masing-masing.
Untuk
terakhir kali, kami tengok Soe dan Idhan. Soe yang mati muda, terbujur
kaku dengan kemeja tangan panjang putih lengkap dengan dasi hitam. Jenis
barang yang tidak mungkin dipakai semasa hidupnya.
Monyet Tua Yang Dikurung
Kalau
diingat-ingat, selama beberapa minggu sebelum keberangkatan dengan
kereta api ke Jatim, Soe memang suka berkata aneh-aneh. Beberapa kali
dia mengisahkan kegundahannya tentang seorang kawan yang mati muda
gara-gara ledakan petasan. Ternyata dalam buku hariannya di CSD, Hok Gie
menulis: "... Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada
kematian. Saya ingin ngobrol-ngobrol pamit sebelum ke Semeru ...."
Soe
yang banyak membaca dan sering diejek dengan julukan "Cina Kecil",
memanfaatkan kebeningan ingatannya untuk menyitir kata-kata "sakti"
filsuf asing. Antara lain, tanggal 22 Januari 1962, ia menulis: "Seorang
filsuf Yunani pernah menulis ... nasib terbaik adalah tidak dilahirkan,
yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua.
Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda."
Soe
yang penyayang binatang (dia memelihara beberapa ekor anjing, banyak
ikan hias dan seekor monyet tua jompo), sebelum musibah Semeru itu
sempat berujar:
"Kehidupan
sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua
yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin
merasakan kehidupan kasar dan keras ... diusap oleh angin dingin seperti
pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil ...
orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur."
Arief
Budiman, sang kakak yang menjemput jenazah Soe di Gubuk Klakah, juga
merasakan sikap aneh adiknya. Sebelum dia meninggal pada bulan Desember
1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan saya. Dia berkata,
"Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya
lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang ...
makin lama makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti
saya. Kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi, apa sebenarnya
yang saya lakukan ... Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian." (CSD)
Arief sendiri mengungkapkan, ibu mereka sering gelisah dan berkata:
"Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak
mendapat uang." Terhadap Ibu, dia cuma tersenyum dan berkata: "Ah, Mama
tidak mengerti".
Arief
pun menulis kenangannya lagi: ... di kamar belakang, ada sebuah meja
panjang. Penerangan listrik suram karena voltase yang selalu naik turun
kalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang lain
sudah tidur, sering kali masih terdengar suara mesin tik ... dari kamar
yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik membuat
karangan ... saya terbangun dari lamunan ... saya berdiri di samping
peti matinya. Di dalam hati saya berbisik, "Gie kamu tidak sendirian".
Saya tak tahu apakah Hok Gie mendengar atau tidak apa yag saya katakan
itu.
Mimpi Seorang Mahasiswa Tua
John
Maxwell yang menyusun disertasinya, Soe Hok Gie - A Biography of A
Young Indonesia Intellectual (Australian National University, 1997),
menjabarkan betapa banyaknya komentar penting terhadap kematian Hok Gie.
Harian Indonesia Raya yang masa itu sedang gencar-gencarnya mengupas
kasus korupsi Pertamina-nya Ibnu Sutowo, memuat tulisan moratorium
tentang Soe secara serial selama tiga hari.
Mingguan
Bandung Mahasiswa Indonesia, mempersembahkan editorial khusus: ...Tanpa
menuntut agar semua insan menjadi seorang Soe Hok-gie, kita hanya bisa
berharap bahwa pemuda ini dapat menjadi model seorang pejuang tanpa
pamrih ... kita membutuhkan orang seperti dia, sebagai lonceng
peringatan yang bisa menegur kita manakala kita melakukan kesalahan.
Di
luar negeri, berita kematian Soe sempat diucapkan Duta Besar RI
Soedjatmoko, di dalam pertemuan The Asia Society in New York, sebagai
berikut: ... Saya ingin menyampaikan penghormatan pada kenangan Soe
Hok-gie, salah seorang intelektual yang paling dinamis dan menjanjikan
dari generasi muda pasca kemerdekaan .... Komitmennya yang mutlak untuk
modernisasi demokrasi, kejujurannya, kepercayaan dirinya yang teguh
dalam perjuangan ... bagi saya ia memberikan suatu ilustrasi tentang
adanya kemungkinan suatu tipe baru orang Indonesia, yang benar-benar
asli orang Indonesia. Saya pikir pesan inilah yang telah disampaikannya
kepada kita, dalam hidupnya yang singkat itu.
Kepada
Ben Anderson, pakar politik Indonesia yang juga kawan lengket Soe,
dalam salah satu surat terakhirnya, Soe menulis, ... Saya merasa semua
yang tertulis dalam artikel-artikel saya adalah sejumput petasan. Dan
semuanya ingin saya isi dengan bom!
Dari
cuplikan berbagai tulisan Soe, terasa sekali sikap dan pandangannya
yang khas. Misalnya, Soe pernah menulis begini: Saya mimpi tentang
sebuah dunia, di mana ulama - buruh - dan pemuda, bangkit dan berkata -
stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan atas nama apa pun. Tak ada
rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, dan bangsa apa pun. Dan
melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia
yang lebih baik.
Khusus
soal mahasiswa, menjelang lulus sebagai sejarawan, 13 Mei 1969, Soe
sempat menulis artikel Mimpi-mimpi Terakhir Seorang Mahasiswa Tua. Dalam
uraian tajam itu, ia menyatakan: ... Beberapa bulan lagi saya akan
pergi dari dunia mahasiswa. Saya meninggalkan dengan hati berat dan
tidak tenang. Masih terlalu banyak kaum munafik yang berkuasa. Orang
yang pura-pura suci dan mengatasnamakan Tuhan ... Masih terlalu banyak
mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi
menindas kalau berkuasa.
Saat
dirinya masuk korps dosen FSUI, secara blak-blakan Soe mengungkap ada
dosen yang membolos 50% dari jatah jam kuliahnya. Bahkan ada dosen
menugaskan mahasiswa menerjemahkan buku. Terjemahan mahasiswa itu
dipakainya sebagai bahan pengajaran, karena sang dosen ternyata tidak
tahu berbahasa Inggris.
Masih
di seputar mahasiswa, dalam nada getir, Soe menulis: ... Hanya mereka
yang berani menuntut haknya, pantas diberikan keadilan. Kalau mahasiswa
Indonesia tidak berani menuntut haknya, biarlah mereka ditindas sampai
akhir zaman oleh sementara dosen-dosen korup mereka.
Khusus
untuk wakil mahasiswa yang duduk dalam DPR Gotong Royong, Hok Gie
sengaja mengirimkan benda peranti dandan. Sebuah sindiran supaya wakil
mahasiswa itu nanti bisa tampil manis di mata pemerintah. Padahal wakil
mahasiswa itu teman-temannya sendiri yang dijuluki "politisi berkartu
mahasiswa". Langkah Soe ini membuat mereka terperangah. Sayangnya,
momentum ini kandas. Soe Hok Gie keburu tewas tercekik gas beracun di
Puncak Mahameru.
Berpolitik Cuma Sementara
John
Maxwell dalam epilog naskah buku Mengenang Seorang Demonstran (November
1999), menulis begini, "Saya sadar telah menulis tentang seorang pemuda
yang hidupnya berakhir tiba-tiba, dan terlalu dini dengan masa depan
yang penuh dengan kemungkinan yang begitu luas."
Kita
telah memperhatikan bagaimana Soe Hok Gie terpana politik dan peristiwa
nasional, setidak-tidaknya sejak masih remaja belasan tahun ... namun
hasratnya terhadap dunia politik, diredam oleh penilaiannya sendiri
bahwa dunia politik itu pada dasarnya lumpur kotor. Semua orang seputar
Soekarno dinilainya korup dan culas, sementara pimpinan partai dan
politisi terkemuka, tidak lebih dari penjilat dan bermental "asal bapak
senang", serta "yes men", atau sudah pasrah.
Pandangan
ini menjadi latar belakang pembelaan Soe akan kekuatan moral dalam
politik di awal tahun 1966. Keikutsertaannya dalam politik hanya untuk
sementara. Pada pertengahan tahun yang sama, dia menyampaikan
argumentasi bahwa sudah tiba saatnya bagi mahasiswa untuk mundur dari
arena politik dan membiarkan politisi profesional bertugas, membangun
kembali institusi politik bangsa." Demikian tulis Maxwell.
Soe
memang sudah bersikap. Dia memilih mendaki gunung daripada ikut-ikutan
berpolitik praktis. Dia memilih bersikap independen dan kritis dengan
semangat bebas. Pikiran dan kritiknya tertuang begitu produktif dalam
pelbagai artikel di media cetak. Namun secara diam-diam, Soe ternyata
juga menumpahkan unek-uneknya dalam bentuk puisi indah. Salah satunya
Mandalawangi-Pangrango yang terkenal di kalangan pendaki gunung.
Pemuda
lajang yang sempat pacaran dengan beberapa gadis manis FSUI, selain
kutu buku, macan mimbar diskusi, kambing gunung, tukang nonton film,
juga penggemar berat folksong (meski sama sekali tak becus bernyanyi
merdu). Berbadan kurus nyaris kerempeng, di gunung makannya gembul.
Bagi
pemuda dan khususnya mahasiswa demonstran, masih ada potongan puisi Hok
Gie yang sempat tercecer, baru muncul di harian Sinar Harapan 18
Agustus 1973. Judulnya "Pesan" dan cukilan pentingnya berbunyi:
Hari
ini aku lihat kembali Wajah-wajah halus yang keras Yang berbicara
tentang kemerdekaaan Dan demokrasi Dan bercita-cita Menggulingkan tiran
Aku mengenali mereka yang tanpa tentara mau berperang melawan diktator dan yang tanpa uang mau memberantas korupsi
Kawan-kawan Kuberikan padamu cintaku Dan maukah kau berjabat tangan Selalu dalam hidup ini?
LAHIRNYA SANG DEMONSTRAN
Anak
keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam
Sutrawan, kelahiran Jakarta tanggal 17 Desember 1942, ini sejak kecil
amat suka membaca, mengarang dan memelihara binatang. Keluarga sederhana
itu tinggal di bilangan Kebonjeruk, di suatu rumah sederhana di pojokan
jalan, bertetangga dengan rumah orang tua Teguh Karya. Saudara
laki-laki satunya ya Soe Hok Djien, kakaknya, yang kita kenal sebagai
Arief Budiman.
Sejak
SMP, ia menulis buku catatan harian, termasuk surat- menyurat dengan
kawan dekatnya. Semakin besar, ia makin berani menghadapi ketidakadilan,
termasuk melawan tindakan semena-mena sang guru. Sekali waktu, Soe
pernah berdebat dengan guru SMP-nya. Tentu saja guru itu naik pitam.
Dalam
catatan hariannya, ia menulis: Guru model begituan, yang tidak tahan
dikritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar.
Dan murid bukan kerbau. Begitu tulis anak muda yang sampai hari
ajalnya, tetap tak bisa mengendarai sepeda motor, apalagi nyupir mobil.
"Gue cuma bisa naik sepeda, juga pandai nggenjot becak."
Sikap
kritisnya semakin tumbuh ketika dia mulai berani mengungkit kemapanan.
Misalnya, saat dirinya menjelang remaja, Soe menyaksikan seorang
pengemis sedang makan kulit buah mangga. Dia pun merogoh saku, lalu
memberikan uangnya yang cuma Rp 2,50 kepada pengemis itu. Di catatannya
ia menulis: Ya, dua kilometer dari pemakan kulit mangga, "paduka" kita
mungkin lagi tertawa-tawa, makan-makan dengan istri-istrinya yang
cantik-cantik. Aku besertamu orang-orang malang.
Bacaan
dan pelajaran yang diterimanya membentuk Soe menjadi pemuda yang
percaya bahwa hakikat hidup adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dan
dapat merasai kedukaan itu.
Soe
melewatkan pendidikannya di SMA Kanisius. Tahun 1962 - 1969 ia
menamatkan kuliah di Fakultas Sasra Universitas Indonesia Jurusan
Sejarah. Ia kemudian masuk organisasi Gerakan Mahasiswa Sosialis
(GMSOS). Sementara keadaan ekonomi makin kacau. Soe resah. Dia mencatat:
Kalau rakyat Indonesia terlalu melarat, maka secara natural mereka akan
bergerak sendiri. Dan kalau ini terjadi, maka akan terjadi chaos. Lebih
baik mahasiswa yang bergerak. Maka lahirlah sang demonstran.
Hari-harinya
diisi dengan program demo, termasuk rapat penting di sana-sini. Aku
ingin agar mahasiswa-mahasiswa ini, menyadari bahwa mereka adalah the
happy selected few yang dapat kuliah dan karena itu mereka harus
menyadari dan melibatkan diri dalam perjuangan bangsanya ... Dan kepada
rakyat aku ingin tunjukkan, bahwa mereka dapat mengharapkan
perbaikan-perbaikan dari keadaan dengan menyatukan diri di bawah
pimpinan patriot-patriot universitas. Begitu tulisnya.
Tahun
1966 ketika mahasiswa tumpah ke jalan melakonkan Aksi Tritura, ia
termasuk di barisan paling depan. Konon, Soe juga salah seorang tokoh
kunci terjadinya aliansi mahasiswa-ABRI pada 1966.
Soe
sendiri dalam buku CSD, menulis soal demonstrasi: Malam itu aku tidur
di Fakultas Psikologi. Aku lelah sekali. Lusa Lebaran dan tahun yang
lama akan segera berlalu. Tetapi kenang-kenangan demonstrasi akan tetap
hidup. Dia adalah batu tapal daripada perjuangan mahasiswa Indonesia.
Batu tapal dalam revolusi Indonesia dan batu tapal dalam sejarah
Indonesia. Karena yang dibelanya adalah keadilan dan kejujuran ...
Jakarta, 25 Januari 1966.
Soe
dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya
Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia
Raya. Sekitar 35 karya artikelnya (kira-kira sepertiga dari seluruh
karyanya) selama rentang waktu tiga tahun Orde Baru, sudah dibukukan dan
diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan (Bentang, 1995).
Juga
skripsi sarjana mudanya perihal Sarekat Islam Semarang, tahun 1999
diterbitkan Yayasan Bentang dengan judul Di Bawah Lentera Merah.
Sebelumnya, skripsi S1-nya yang mengulas soal pemberontakan PKI di
Madiun, juga sudah dibukukan dengan judul Orang-orang di Persimpangan
Jalan (Bentang, 1997).
Kabarnya,
sajak karya Soe yang puluhan judul itu, kini juga sedang dalam
penyusunan untuk dijadikan sebuah buku kecil. Masuk akal sekali. Sebab
Soe itu bergaul akrab dengan penyair angkatannya Taufik Ismail, WS
Rendra, Satyagraha Hoerip.
sumber : http://rullydeonline.blogspot.com
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Silahkan berkomentar. Thanks...