Pages - Menu

Pages

Jumat, 08 Februari 2013

PENDIDIKAN DI SUMBA TIMUR NYARIS TERDENGAR DIGEDUNG DPRD, ORANG TUA MURID BELI PENDIDIKAN

Memasuki Awal bulan memperingati kemerdekaan Indonesia, tepatnya tanggal 02 Agustus 2011, waktu yang ditentukan Pejabat Daerah ketika tidak ada kegiatan yang menyibukkan bagi mereka. Yang seharusnya kegiatan Dialog dan dengar pendapat tentang pendidikan Sumba Timur seyogyanya dilakuakan  pada tanggal 22 juli 2011 lalu, ketika sekolah-sekolah menerima pendaftaran murid baru. Pertemuan ini di selenggarakan oleh sebuah LSM Stimulant Institute Sumba) yang khususnya bergerak dalam bidang Advokasi Kebijakan dan Pelayanan Publik bersama Pusat Sumber Daya

Dialog CRC bersama DPRD dan Pemerintah kabupaten Sumba Timur

Waingapu, 02 agustus 2011

Dalam rangka penerimaan siswa baru (PSB) yang telah dilaksanakan sebulan yang lalu di kabupaten sumba timur, Pusat sumber daya warga (CRC) yang telah terbentuk di kecamatan kota dan kecamatan kambera kabupaten Sumba Timur telah memprakarsai dialog antara DPRD, Pemerintah Kabupaten Sumba Timur dan bersama kepala sekolah mulai dari tingkat SD sampai ke tingkat SMA. DPRD juga mengapresiasi Pusat Sumber Daya Warga (CRC) dan Stimulant Institute sumba yang telah memprakarsai kegiatan dialog ini.
Dialog yang dipimpin langsung oleh ketua DPRD kabupaten Sumba Timur Bapak drh. Palulu Pabundu Ndima, Msi. bertujuan untuk mendengarkan keluh kesah yang dirasakan oleh masyarakat miskin yang mengalami kendala dalam mengakses dan menyekolahkan anaknya di sekolah yang berkualitas, kendatipun pemerintah kabupaten Sumba Timur telah menganggarkan biaya yang tinggi di sector pendidikan Untuk meningkatkan SDM kabupaten Sumba Timur, pemerintah juga menaruh perhatian yang sangat serius untuk sector pendidikan, hal ini diwujudnyatakan dengan mengalokasikan anggaran sebesar 36 % dari APBN Kabupaten Sumba Timur dan bahkan adanya program sekolah gratis bagi wajib belajar, tetapi jauh dari harapan bahwa masih banyak orang tua yang merasakan mahalnya masuk sekolah bagi anak-anaknya, dan belum menyentuh apa yang menjadi kebutuhan dari warga miskin dan kaum marginal lainnya. Buktinya bahwa di Kabupaten Sumba Timur masih banyak warga yang mengalami masalah dan belum bisa membiayai anaknya untuk bersekolah. Disamping itu, semangat orang tua tidak pernah surut untuk menyekolahkan anaknya karena merupakan tanggung jawabnya sebagai orang tua.