BAHAYA TAMBANG TERHADAP AIR TANAH
Air
tanah dan mata air terjadi akibat adanya kejenuhan tanah pada kedalaman
tertentu oleh air hujan. Air hujan yang jatuh akan menbasahi tanah dan
setelah permukaan tanah kenyang air lalu air hujan mengalir menurut
ketinggian. Pada bagian tanah tertentu yang daya tampung airnya tinggi
akan berkumpul sampai sangat kenyang (super jenuh) lalu tebentuk aliran
"laminar" air melalui lapisan tanah dan si ujung lapisan tesebut apabila
ada hambatan, kan keluar sebagai mata air.
Namun keluarnya mata air
ini bergantung kepada daya tangkap air hujan, kemampuan penyerapan air
dan gangguan permukaan seperti tambang.
1. Daya tangkap air hujan
Taruhlah sebuah gelas dan sebuah ember di luar saat hujan turun.
Manakah yg menampung air lebih banyak? Tentu ember. Mengapa karena luas
dan kapasitasnya lebih besar dari gelas. Demikian pula dayabtangkap air
oleh pulau. Katakan saja pulau kalimantan adalah ember dan pulau sumba
adalah gelas. Jelas di sini bahwa daya tangkap air hujan pulau Sumba
sangat rendah dan itulah sebabnya pulau sumba selalu kekurangan air.
Belum lagi curah hujan yang rendah di kawasan NTT.
2. Penyerapan air bergantung kepada topografi dan tebalnya lapisan tanah yg menyerap air.
Kasus Sumba Tengah (dan mirip bagian Sumba yang lain), hampir 50%
daratan Sumba tenagah adalah gunung dan bukit dengan kemiringan hampir
50 derajat. (lihat website sumba tengah).
Artinya apa? Untuk
mengerti ini lihatlah kemiringan atap rumah dan yang paling mendekati
adalah atap genteng. Adalah ketentuan teknik bahwa atap genteng harus
memiliki kemiringan minimum 30 derajat agar air tidak balik dan genteng
bocor. Kalau kemiringan 50 derajat mungkin mirip gereja atap tinggi.
Atap demikian, genteng berlubang pun dijamin tidak bocor.
Kembali ke
topografi gunung. Kalau kemiringan gunung lebih besar dari 30 derajat,
maka air hukan tadi akan langsung mengalir ke tempat rendah tanpa
penyerapan air. Karena itu gunung sering kering dan tandus. Artinya
topografi pegungungan sangat miskin penyerapan keculi ada hutan yg
menahan air.
Kemudian selain kemiringan, walau pun permukaan yg
kemiringan rendah (di bawah 30 derajat) ada faktor ketebalan lapisan
tanah. Kasus sumba tengah bagian utara tanahnya tipis dan di bawahnya
batu. Keadaan ini memperparah kemampuan datran Sumba tengah menyerap air
dan menghasilkan mata air yg banyak dan besar.
3. Gangguan tambang.
Yang membuat kehidupan dan adanya mata air di beberapa tempat di Sumba
saat ini karena masih ada bagian2 tertentu yg menahan menyerap air.
Misalnya hutan dan dataran bertanah tebal. Juga kebetulan aliran air
dari mana-mana yaitu bagian yg sulit menyerap air menuju ke daerah atau
lokasi/ titik yg menyerap air.
Juka sekarang dibuat tambang seluas
30.000 ha sengan kedalaman 100 m saja maka aliran air hujan yg tdk
sempat menyerap tadi akan menuju ke lubang tambang. Belum lagi pemkaia
air tanah yg sanagt besar utk operasi tambang akan membuat sekitar
kering dan air akan berubah jakur.
Akibatnya, tidak ada lagi air yg
menuju tempat/titik yg daya serap tinggi dan membuat mata air yang ada
atau lapisan tanah yg selama ini cepat jenuh akan kekurangan air dan
tidak jenuh kembali yg ujungnya mata air akan kering. Atau, dengan
turunnya level air tertampung di lubang tambang yg lebih rendah (sangat
rendah) akan membuat aliran air bawah tanah terputus dan hanya mengalir
ke lapisan yg sangat rendah dan bisa saja keluar sebagai mata aie di
laut. Mata air yg ada di selurh Sumba seperti waikabubak, lapale,
kabukarudi, wekeli sawah karuni dan beberapa tempat akan kerung. Dalam
waktu lama pulau Sumba akan beeubah menjadi gurun.
Pertanyaannya:
kalau anda haus hampir matinkekeringan air tunuh dan di hadapan anda ada
segelas air dan 1 kg emas. Manakah yg anda pilih? Kalau anda masih
memilih emas, TER.. LA ... LU...!!!!
Salam tolak Tambang, KEBAMOTO
dikutip dari tulisan KEBAMOTO
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Silahkan berkomentar. Thanks...