Pages - Menu

Pages

Jumat, 25 Desember 2015

Pada Suatu Masa : menyambut Dia

Pada Suatu Masa
Ketika hanya ada riuh angin
mengajak rumput Savana bergoyang
mengikuti tiupan angin

Pada Suatu Masa
sunyi menyambut orang orang kampung
dalam kesunyian untuk merasakan kedamaian hakiki

Pada Suatu Masa
tak ada gemuruh kembang api
hanya ada gemuruh guntur yang menggelar
dan sambaran halilintar

Pada Suatu Masa
menyambut Sang Bayi Mungil
pembawa Damai dan Menebus Dosa


Perumnas, 25122015

Sabtu, 25 April 2015

Kekuatan Pilihan

Kehidupan adalah soal pilihan, dan
setiap pilihan yang Anda buat akan
berpengaruh besar terhadap diri Anda
sendiri.        
Pekerjaan apa yang Anda pilih? Dengan
siapa Anda menikah? Di mana Anda
tinggal? Apa yang Anda lakukan hari
ini? Tetapi satu pilihan yang paling
penting adalah akan menjadi siapa
Anda?

Jumat, 24 April 2015

LAGI BERTUALANG KE "SURGA TANA MARAPU"





Mimpi untuk mengunjungi sebuah “surga” pada tanah “Marapu” memang sejak lama, menunggu waktu memberikan kelonggoran saya ke sana sangat saya dambakan, Sampai pada akhirnya saya berkesempatan menggunjungi salah satu pantai di Sumba timur yang dulu saya impikan. Pantai Mondu Lambi namanya, mendengar namanya yang unik dan seperti pinggiran sungai yang lembek begitulah arti harafiah dari nama itu, tapi tentunya tidak “seseram” namanya karena pantai itu sangat menakjubkan.

Minggu, 12 April 2015

MIMPI MENGAPAI BINTANG



Matahari pagi di ufuk timur, tersenyum manis menyapa indahnya semesta alam ini. Ku termenung sendiri dalam keheningan pagi yang indah itu. Ada sejuta tanya yang berkecamuk dalam jiwa ini, yang tak dapat ku jelaskan dengan akal sehat ku sendiri.
Aku masih termenung melihat sang surya penuh makna, berkecamuk dengan gejolak jiwa ku sendiri yang aku pun tak mengerti. Aku tersentak dalam lamunan yang panjang dan tersadarkan bahwa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi itu.
Aku tersadar bahwa ada seorang gadis manis yang selalu mengisi lamunanku, seorang gadis yang penuh senyum dalam setiap hayalku. Gadis yang menyapaku dengan senyumnya di setiap aku membukakan mata pada pagi hari dan tersenyum pada malam hari di saat aku merebahkan diri di peraduan. Dia bagaikan energi terbarukan yang hadir dalam hidupku, yang meberikan kekuatan yang baru untuk ku terus melangkah dan berkarya.
Aku tak tau apa yang mengelumuti perasaanku ini, tapi yang aku rasakan adalah ada kebahagian tersendiri ketika aku bersamanya, ada sesuatu yang membuatku tak dapat ku ukirkan dengan kata-kata karena semuanya tak terukirkan dengan kata yang indah. Tanggal 10 s/d 12 April mungkin adalah hari yang sangat istimewa bagiku di bulan April, aku bisa melihatnya tertawa dan bercanda ria walaupun hanya sebatas memandangnya. Terkadang ketika bersamanya aku tak mampu untuk berkata-kata, lidahku bagaikan ditutup oleh sejuta semut sehingga aku tak dapat berkata-kata. Saat yang indah itu sangatlah terlalu cepat bagiku, waktu seakan berlari menjauh meninggalkan-ku bahkan waktu tak ingin bertelorasi sedikitpun. Tak ada tawar mewar dengannya karena dia (waktu) tak dapat dikendalikan sebab dia berjalan sesuai dengan perintah sang Esa.
Ketika malam telah tiba, aku disapa oleh rembulan malam di malam itu, dia bertanya padaku
“apa yang sedang kau lakukan disini”??,
 “kenapa kau ingin berteman dengan sepimu”??
“tak adakah yang dapat kau lakukan hai lelaki malang”??
Aku coba berdalil dengan sang rembulan malam,,
“aku sedang menatap kebesaran Tuhan, menatap kebesaran Tuhan berteman dengan keramaian Bintang malam, tuk mencoba mengerti kebesaran sang Esa”
Aku coba berbohong pada sang rembulan malam, namun semuanya sia-sia dan sang rembulan berkata;
“berhentilah berbohong hai anak muda, kau tak punya nurani untuk membohongiku. Matamu tak bisa berbohong, kau seolah menutup sesuatu yang terukir didalam bola matamu. Kau membiarkan semuanya ditelan oleh sang waktu dan kau tak mau berjuang demi dia”
Aku mulai berdalil lagi dengan sang rembulan,,
“aku tak menyembunyikan sesuatu, aku hanya memikirkan sesuatu yang mungkin tak mungkin ku miliki”
Aku pun beranjak dan berjalan menujuh pembaringan untuk membaringkan tubuh yang lelah ini dan berharap aku dapat MENGAPAI BINTANG walaupun hanya didalam MIMPI.

Dongeng Dua Waktu Mentari



Langkah kecil bergulir melaju, menabrak seekor anjing dikala malam
Menghempas sunyi, dan harap esok tannpa mendung
Menerjang malam dalam kebekuan kabut selatan gubuk yang terlupa.
Dalam hari yang akan ku jejaki, adakah sejuta pilu terhapuskan?
Ya, jawab mentari yang menanti esok hari.
Perjalalan yang bertabur sejuta kekonyolan anak manusia, juga ada duka yang di pendam.
Mencari arti kebesaran dalam kesenyapan pelosok bebatuan di selatan tanah marapu
Bahkan riuh ombak yang bertarung menyembunyikan kebahagiaanku, tetapi angin memberitakan lebih cepat dari harapan akan kebahagiaan itu.
Cerita kebahagiaan itu hanyalah angan semu yang ku kecap sendiri saat berada di selatan.
Bergantinya sang mentari kemarin, tetap menghadirkan sejuta harap palsu yang masih ku rasa
Mungkin ini akan menjadi kisah yang mengagumkan beberapa anak manusia, tetapi kusimpan duka ini karena harap bukanlah kenyataan. Dan kenyataan tak seindah angan.
Mungkin rasa yang ku tuangkan dapat diartikan dusta, tapi yakinlah rasa ini adalah karang yang akan terus tegak berdiri melawan terpaan ombak dan angin yang menggerus tepian hatiku.

Rabu, 08 April 2015

Keberanian Menepuh Resiko


"Semua mimpi kita dapat menjadi
kenyataan, jika kita punya keberanian
untuk mewujudkannya" - Walt Disney

Banyak orang yang ingin sukses, tapi
hanya sedikit yang berani mengambil
risiko.
Larry Osborne pernah mengatakan
bahwa, "Hal paling mencengangkan dari
para pemimpin yang paling efektif
adalah betapa sedikitnya persamaan
dalam diri mereka. Tetapi ada satu
sifat menonjol yang mudah dikenali
yaitu kesediaan mereka menempuh
risiko."

Minggu, 05 April 2015

KOTA TUA

Sore ini Aku Lihat lagi Gelombang Yang berlomba
Ditemani Sobat Karib Menghadang Ujung Ombak bertepi
Ini Bukan Hanya Soal Ttarian Ombak
Tapi Mulai Beromba Beban Pikir Yang Pesat.

Dari Kebisingan Kota Tua Yang Dihuni Kaum Tua
Yang Berhelat Menjelang Pilkada
Hari Mulai Gelap Seiring Mentari ke Peraduannya
lampu pijar mulai menitik dari kejauhan,

Disudut Kota Tua pemuja Kaum Tua
Kawan...!!! Mari kita Ukir Mimpi Kita
Seluas Lautan Ini,
Untuk Kota Tua yang Mulai Suram
DirenggutSang Tua....


(Mananga Mehi, 01/04/2015)