Pages - Menu
Pages
Sabtu, 25 April 2015
Jumat, 24 April 2015
LAGI BERTUALANG KE "SURGA TANA MARAPU"
Mimpi untuk mengunjungi
sebuah “surga” pada tanah “Marapu” memang sejak lama, menunggu waktu memberikan
kelonggoran saya ke sana sangat saya dambakan, Sampai pada akhirnya saya
berkesempatan menggunjungi salah satu pantai di Sumba timur yang dulu saya
impikan. Pantai Mondu Lambi namanya, mendengar namanya yang unik dan seperti
pinggiran sungai yang lembek begitulah arti harafiah dari nama itu, tapi
tentunya tidak “seseram” namanya karena pantai itu sangat menakjubkan.
Minggu, 12 April 2015
MIMPI MENGAPAI BINTANG
Matahari
pagi di ufuk timur, tersenyum manis menyapa indahnya semesta alam ini. Ku
termenung sendiri dalam keheningan pagi yang indah itu. Ada sejuta tanya yang
berkecamuk dalam jiwa ini, yang tak dapat ku jelaskan dengan akal sehat ku
sendiri.
Aku
masih termenung melihat sang surya penuh makna, berkecamuk dengan gejolak jiwa
ku sendiri yang aku pun tak mengerti. Aku tersentak dalam lamunan yang panjang
dan tersadarkan bahwa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi itu.
Aku
tersadar bahwa ada seorang gadis manis yang selalu mengisi lamunanku, seorang
gadis yang penuh senyum dalam setiap hayalku. Gadis yang menyapaku dengan
senyumnya di setiap aku membukakan mata pada pagi hari dan tersenyum pada malam
hari di saat aku merebahkan diri di peraduan. Dia bagaikan energi terbarukan
yang hadir dalam hidupku, yang meberikan kekuatan yang baru untuk ku terus
melangkah dan berkarya.
Aku
tak tau apa yang mengelumuti perasaanku ini, tapi yang aku rasakan adalah ada
kebahagian tersendiri ketika aku bersamanya, ada sesuatu yang membuatku tak
dapat ku ukirkan dengan kata-kata karena semuanya tak terukirkan dengan kata
yang indah. Tanggal 10 s/d 12 April mungkin adalah hari yang sangat istimewa
bagiku di bulan April, aku bisa melihatnya tertawa dan bercanda ria walaupun
hanya sebatas memandangnya. Terkadang ketika bersamanya aku tak mampu untuk
berkata-kata, lidahku bagaikan ditutup oleh sejuta semut sehingga aku tak dapat
berkata-kata. Saat yang indah itu sangatlah terlalu cepat bagiku, waktu seakan
berlari menjauh meninggalkan-ku bahkan waktu tak ingin bertelorasi sedikitpun.
Tak ada tawar mewar dengannya karena dia (waktu) tak dapat dikendalikan sebab
dia berjalan sesuai dengan perintah sang Esa.
Ketika
malam telah tiba, aku disapa oleh rembulan malam di malam itu, dia bertanya
padaku
“apa
yang sedang kau lakukan disini”??,
“kenapa kau ingin berteman dengan sepimu”??
“tak
adakah yang dapat kau lakukan hai lelaki malang”??
Aku
coba berdalil dengan sang rembulan malam,,
“aku
sedang menatap kebesaran Tuhan, menatap kebesaran Tuhan berteman dengan
keramaian Bintang malam, tuk mencoba mengerti kebesaran sang Esa”
Aku
coba berbohong pada sang rembulan malam, namun semuanya sia-sia dan sang
rembulan berkata;
“berhentilah
berbohong hai anak muda, kau tak punya nurani untuk membohongiku. Matamu tak
bisa berbohong, kau seolah menutup sesuatu yang terukir didalam bola matamu.
Kau membiarkan semuanya ditelan oleh sang waktu dan kau tak mau berjuang demi
dia”
Aku
mulai berdalil lagi dengan sang rembulan,,
“aku
tak menyembunyikan sesuatu, aku hanya memikirkan sesuatu yang mungkin tak
mungkin ku miliki”
Aku
pun beranjak dan berjalan menujuh pembaringan untuk membaringkan tubuh yang
lelah ini dan berharap aku dapat MENGAPAI BINTANG walaupun hanya didalam MIMPI.
Dongeng Dua Waktu Mentari
Langkah kecil bergulir melaju, menabrak seekor anjing dikala
malam
Menghempas sunyi, dan harap esok tannpa mendung
Menerjang malam dalam kebekuan kabut selatan gubuk yang
terlupa.
Dalam hari yang akan ku jejaki, adakah sejuta pilu
terhapuskan?
Ya, jawab mentari yang menanti esok hari.
Perjalalan yang bertabur sejuta kekonyolan anak manusia,
juga ada duka yang di pendam.
Mencari arti kebesaran dalam kesenyapan pelosok bebatuan di
selatan tanah marapu
Bahkan riuh ombak yang bertarung menyembunyikan
kebahagiaanku, tetapi angin memberitakan lebih cepat dari harapan akan
kebahagiaan itu.
Cerita kebahagiaan itu hanyalah angan semu yang ku kecap
sendiri saat berada di selatan.
Bergantinya sang mentari kemarin, tetap menghadirkan sejuta
harap palsu yang masih ku rasa
Mungkin ini akan menjadi kisah yang mengagumkan beberapa
anak manusia, tetapi kusimpan duka ini karena harap bukanlah kenyataan. Dan
kenyataan tak seindah angan.
Mungkin rasa yang ku tuangkan dapat diartikan dusta, tapi
yakinlah rasa ini adalah karang yang akan terus tegak berdiri melawan terpaan
ombak dan angin yang menggerus tepian hatiku.
Rabu, 08 April 2015
Keberanian Menepuh Resiko
"Semua mimpi kita dapat menjadi
kenyataan, jika kita punya keberanian
untuk mewujudkannya" - Walt Disney
Banyak orang yang ingin sukses, tapi
hanya sedikit yang berani mengambil
risiko.
Larry Osborne pernah mengatakan
bahwa, "Hal paling mencengangkan dari
para pemimpin yang paling efektif
adalah betapa sedikitnya persamaan
dalam diri mereka. Tetapi ada satu
sifat menonjol yang mudah dikenali
yaitu kesediaan mereka menempuh
risiko."
Minggu, 05 April 2015
KOTA TUA
Sore ini Aku Lihat lagi Gelombang Yang berlomba
Ditemani Sobat Karib Menghadang Ujung Ombak bertepi
Ini Bukan Hanya Soal Ttarian Ombak
Tapi Mulai Beromba Beban Pikir Yang Pesat.
Dari Kebisingan Kota Tua Yang Dihuni Kaum Tua
Yang Berhelat Menjelang Pilkada
Hari Mulai Gelap Seiring Mentari ke Peraduannya
lampu pijar mulai menitik dari kejauhan,
Disudut Kota Tua pemuja Kaum Tua
Kawan...!!! Mari kita Ukir Mimpi Kita
Seluas Lautan Ini,
Untuk Kota Tua yang Mulai Suram
DirenggutSang Tua....
(Mananga Mehi, 01/04/2015)
Ditemani Sobat Karib Menghadang Ujung Ombak bertepi
Ini Bukan Hanya Soal Ttarian Ombak
Tapi Mulai Beromba Beban Pikir Yang Pesat.
Dari Kebisingan Kota Tua Yang Dihuni Kaum Tua
Yang Berhelat Menjelang Pilkada
Hari Mulai Gelap Seiring Mentari ke Peraduannya
lampu pijar mulai menitik dari kejauhan,
Disudut Kota Tua pemuja Kaum Tua
Kawan...!!! Mari kita Ukir Mimpi Kita
Seluas Lautan Ini,
Untuk Kota Tua yang Mulai Suram
DirenggutSang Tua....
(Mananga Mehi, 01/04/2015)
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
