Matahari
pagi di ufuk timur, tersenyum manis menyapa indahnya semesta alam ini. Ku
termenung sendiri dalam keheningan pagi yang indah itu. Ada sejuta tanya yang
berkecamuk dalam jiwa ini, yang tak dapat ku jelaskan dengan akal sehat ku
sendiri.
Aku
masih termenung melihat sang surya penuh makna, berkecamuk dengan gejolak jiwa
ku sendiri yang aku pun tak mengerti. Aku tersentak dalam lamunan yang panjang
dan tersadarkan bahwa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi itu.
Aku
tersadar bahwa ada seorang gadis manis yang selalu mengisi lamunanku, seorang
gadis yang penuh senyum dalam setiap hayalku. Gadis yang menyapaku dengan
senyumnya di setiap aku membukakan mata pada pagi hari dan tersenyum pada malam
hari di saat aku merebahkan diri di peraduan. Dia bagaikan energi terbarukan
yang hadir dalam hidupku, yang meberikan kekuatan yang baru untuk ku terus
melangkah dan berkarya.
Aku
tak tau apa yang mengelumuti perasaanku ini, tapi yang aku rasakan adalah ada
kebahagian tersendiri ketika aku bersamanya, ada sesuatu yang membuatku tak
dapat ku ukirkan dengan kata-kata karena semuanya tak terukirkan dengan kata
yang indah. Tanggal 10 s/d 12 April mungkin adalah hari yang sangat istimewa
bagiku di bulan April, aku bisa melihatnya tertawa dan bercanda ria walaupun
hanya sebatas memandangnya. Terkadang ketika bersamanya aku tak mampu untuk
berkata-kata, lidahku bagaikan ditutup oleh sejuta semut sehingga aku tak dapat
berkata-kata. Saat yang indah itu sangatlah terlalu cepat bagiku, waktu seakan
berlari menjauh meninggalkan-ku bahkan waktu tak ingin bertelorasi sedikitpun.
Tak ada tawar mewar dengannya karena dia (waktu) tak dapat dikendalikan sebab
dia berjalan sesuai dengan perintah sang Esa.
Ketika
malam telah tiba, aku disapa oleh rembulan malam di malam itu, dia bertanya
padaku
“apa
yang sedang kau lakukan disini”??,
“kenapa kau ingin berteman dengan sepimu”??
“tak
adakah yang dapat kau lakukan hai lelaki malang”??
Aku
coba berdalil dengan sang rembulan malam,,
“aku
sedang menatap kebesaran Tuhan, menatap kebesaran Tuhan berteman dengan
keramaian Bintang malam, tuk mencoba mengerti kebesaran sang Esa”
Aku
coba berbohong pada sang rembulan malam, namun semuanya sia-sia dan sang
rembulan berkata;
“berhentilah
berbohong hai anak muda, kau tak punya nurani untuk membohongiku. Matamu tak
bisa berbohong, kau seolah menutup sesuatu yang terukir didalam bola matamu.
Kau membiarkan semuanya ditelan oleh sang waktu dan kau tak mau berjuang demi
dia”
Aku
mulai berdalil lagi dengan sang rembulan,,
“aku
tak menyembunyikan sesuatu, aku hanya memikirkan sesuatu yang mungkin tak
mungkin ku miliki”
Aku
pun beranjak dan berjalan menujuh pembaringan untuk membaringkan tubuh yang
lelah ini dan berharap aku dapat MENGAPAI BINTANG walaupun hanya didalam MIMPI.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Silahkan berkomentar. Thanks...